JAKARTA, HarianBernas.com – Naiknya indeks kehidupan keberagamaan sebagaimana diutarakan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin menuai pertanyaan dari Kaukus Pancasila. Sebab metode yang digunakan pun patut dipertanyakan bila diselaraskan dengan fakta di lapangan.
?Menag harus menjelaskan dengan metodenya apa indeks itu naik, karena tidak sesuai dengan apa yang saya alami,? ujar anggota Kaukus Pancasila DPR, Eva Kusuma Sundari di Komplek Gedung Parlemen, Rabu (15/3/2017).
Indeks 2016 kehidupan keagamaan naik 0,11 persen dibandingkan periode 2015 sebagaimana dinyatakan Menag Lukman. Menurutnya pernyataan Menag tidak sesuai dengan kondisi dalam Pilkada yang memburuk akibat dampak dari intoleran.
?Ini kok ada anomali dari Menag,? ujarnya.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengatakan temuan Kemenag berbeda dengan temuai Setara Institute, Wahid Instutute dan lainnya. Ia pun meragukan hasil temuan Kemenag.
?Saya meragukan dengan temuan Menag ini apa indikatornya karena tidak sesuai dengan temuan seperti Setara Institute dan The Wahid Institute,? katanya.
Ia mengatakan kondisi keagamaan terbaru yakni penyegelan masjid jamaah Ahmadiyah di bilangan Sawangan Depok. Selain itu pelarangan kegiatan ibadah di tiga gereja. Yakni yaitu Katolik, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Methodis di Perumahan Griya Parung Panjang, Bogor oleh Pemkot.
?Jadi kayaknya Menag ini hidup di menara gading, tidak mengerti apa yang sedang berlangsung yang menjadi konsentrasi banyak orang,? pungkasnya.